Gelora

Bahasa Jati Diri Bangsa

fadli zon42

Bahasa mempunyai peran sangat penting dalam menentukan karakter dan identitas sebuah bangsa. Karakter dan identitas ini membentuk jati diri yang akan membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain.

Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia sudah memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Salah satu isi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928: “Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Anak-anak muda antara lain dari Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond berikrar tentang bahasa persatuan.

Walaupun saat itu masyarakat Indonesia didominasi suku Jawa, dan orang-orang pemegang pengaruh kekuasaan sebagian besar berasal dari Jawa, namun yang dipilih menjadi bahasa persatuan justru bahasa Indonesia. Bukan bahasa Jawa atau Sunda. Tak ada Jawanisasi atau Sundanisasi. Berbeda misalnya dengan Rusia yang melakukan Rusifikasi terhadap suku-suku bangsa minoritas dalam negara Uni Soviet ketika itu. Tak heran, negara adidaya ini setelah 70 tahun akhirnya mengalami perpecahan.

Hal ini menunjukkan para pendiri bangsa kita punya visi jauh ke depan. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi prioritas. Bahasa ikut menentukan proses pembentukan karakter dan pembangunan bangsa. Lebih dari itu, bahasa menyatukan segala perbedaan, merekatkan budaya yang beraneka ragam.

Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak dulu sudah dipakai sebagai lingua franca (bahasa perantara) di Kepulauan Nusantara dan juga hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara. Benteng pertahanan bahasa Melayu yang terkuat di dunia adalah Indonesia.

Namun, bukan berarti bahasa Melayu tak mendapat ancaman.Kini, akibat globalisasi, penggunaannya mulai terpinggirkan oleh bahasa asing yang datang dari mancanegara, khususnya bahasa Inggris. Bahasa Inggris memang penting sebagai bahasa internasional. Tapi bahasa Indonesia seharusnya bisa menjadi bahasa internasional lainnya.

Globalisasi ditandai meningkatnya interaksi antarmanusia secara ekonomi, politik dan sosial budaya melalui kecepatan teknologi terutama di sektor informasi dan komunikasi. Dalam kenyataannya, globalisasi menguntungkan yang kuat dan merugikan yang lemah. Dari sisi budaya, globalisasi menjadi saluran budaya “besar” merasuki media massa sampai ke rumah-rumah melalui televisi, internet, dan telepon genggam. Bangsa yang tak siap menghadapi globalisasi bisa kehilangan identitas budaya lokal.

Adanya gejala Vickynisasi yang menjadi fenomena belakangan ini merupakan peringatan tentang kondisi bahasa kita yang memprihatinkan. Penggunaan bahasa Indonesia di berbagai tempat umum juga tak kalah menyedihkan. Nama bangunan, pusat perbelanjaan, hotel dan restoran, kompleks perumahan, taman, ataupun berbagai ruang publik lainnya sudah mulai beralih menggunakan bahasa asing. Wajah bahasa Indonesia semakin asing di negeri sendiri.

Hal ini tak boleh terus dibiarkan terjadi. Jati diri keindonesiaan serta kedaulatan kita sebagai bangsa Indonesia bisa luntur, larutdalam arus budaya global. Mari gunakan bahasa Indonesia yangbaik dan benar. Dimulai dari diri sendiri, dan dimulai saat ini

Share:

Leave a reply