ARNHEM-berdemokrasi.com: Wakil Ketua DPR RI, Dr. Fadli Zon, SS., MSc., melakukan kunjungan muhibah ke Belanda untuk kegiatan World Justice Forum V yang berlangsung 10-13 Juli 2017 di Negeri Kincir Angin itu.
Dalam kesempatan muhibah itu, Fadli Zon melakukan sejumlah kegiatan, diantaranya menemui sejumlah orang di Belanda, termasuk Willem Zwief dan Theo Alkema, yang merupakan ahli budaya dan ahli keris.
Selain itu, dalam lawatan ini, Fadli Zon yang juga seorang budayawan mengunjungi Museum Bronbeek, yang merupakan kompleks veteran Belanda, yang dikirimkan ke Indonesia dalam kurun 1945-1949, yang berlokasi di Arnhem.
Salah satu hal yang menarik di Museum Bronbeek, yang semuanya merupakan upaya untuk mengenal sejarah Indonesia, adalah upaya untuk menyembunyikan tanggal kemerdekaan Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945.
“Memang, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia¬† pada tanggal 27 Desember 1949,” kata Fadli Zon, yang juga seorang pakar sejarah, dalam keterangan tertulis, Senin (10/7/2017).
Menurut Fadli Zon, hal itu terjadi karena Belanda berada dalam dilema di mana usai tanggal kemerdekaan Indonesia, Belanda melakukan upaya untuk menyerbu dan berperang dengan Indonesia di sejumlah kota utama Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya.
“Alasannya, kalau Belanda mencantumkan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari Kemerdekaan Indonesia maka mereka bisa dianggap melanggar HAM berat,” kata Fadli Zon.
Sementara itu, Belanda melakukan upaya untuk merebut kedaulatan Indonesia dalam kurun 1945-1949.
Menurut Fadli Zon, sebagaimana literatur yang ada, Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia dan kedaulatan Indonesia tanggal 27 Desember 1949.
Sejumlah peristiwa mengikuti proklamasi kemerdekaan Indonesia yang terjadi di tahun 1945. Di antaranya peristiwa Rawa Gede di mana sejumlah rakyat dibunuh dan kemudian, atas perjuangan sejumlah korban dan gugatan dilakukan, yang akhirnya Belanda memberikan ganti rugi berupa uang kepada sejumlah janda dan ahli waris, yang menjadi korban di Rawa Gede.
Museum Bronbeek sendiri merupakan bagian dari kompleks untuk veteran perang yang tergabung dalam KNIL. Pengelola museum ini menyatu dengan tempat tinggal 50 anggota KNIL yang masih hidup dan mereka menempati apartemen di kompleks museum tersebut.
Veteran itu terdiri dari 49 bekas tentara pria dan 1 orang tentara wanita, yang menghabiskan hari tua mereka di kompleks tersebut.
Fadli Zon berkesempatan menyaksikan sejumlah peninggalan dan artefak di masa penyerbuan Belanda di kurun 1945-1949. Di antara sejumlah peninggalan itu terdapat senjata api, meriam ukuran besar yang beratnya 5-6 ton, serta bekas peninggalan pejuang Indonesia, termasuk di antaranya Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro berjuang dalam kurun 1825 dan ditangkap Belanda di tahun 1830, yang kemudian berpulang ke haribaan Allah SWT pada 1855 di bawah kekuasaan militer Belanda.
Peninggalan lainnya yang juga ada di museum itu adalah peninggalan Teuku Umar, antara lain berupa Alquran kecil, rencong, dan sejumlah pakaian milik Teuku Umar berhasil disimpan dan berada di Museum Bronbeek nan megah itu.