JAKARTA-berdemokrasi.com: Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon menyebutkan bahwa menurunnya daya beli masyarakat saat ini, memang fakta. “Ini adalah fakta yang dihadapi, bukan karena lawan politik,” katanya, Rabu (4/10/2017).

Fadli memberi contoh  sepinya pusat perbelanjaan seperti Tanah Abang dan Glodok. Selain itu, retail besar seperti Ramayana dan Matahari juga banyak menutup gerainya.

Menurut Fadli,  terlalu dangkal analisis Jokowi yang menyatakan ada peralihan cara belanja dari online ke offline.

Dia mengakui saat ini peralihan ke belanja online tengah terjadi. Namun, jumlahnya tak signifikan dan hanya terjadi pada generasi milenial di kota besar. “Hasil survei atau data statistik kita harus lebih jujur untuk melihat bahwa daya beli kita menurun,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Fadli menilai, sepinya aktivitas ekonomi di pasar offline ini disebabkan masyarakat tidak mempunyai daya beli yang cukup. Ini karena kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak, listrik, dan kebutuhan pokok lainnya. Selain itu, Fadli juga menyoroti langkah pemerintah yang mengenakan berbagai macam pajak kepada masyarakat. Menurut dia, pemerintah terlalu ambisius membangun infrastruktur, namun dampaknya juga tidak dirasakan secara langsung oleh rakyat.

“Setiap kali saya kunjungan ke daerah, saya tanya masyarakat, semua menyatakan hidupnya makin susah,” ujarnya.