MEDAN-berdemokrasi.com :Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon tampil menjadi pembicara di Kuliah Umum bersama mahasiswa FISIP Universitas Sumatra Utara (USU), Kampus USU, Padang Bulan, Medan, Jumat (20/4/2018) dengan tema Ketimpangan Ekonomi dan Demokrasi. Selanjutnya, Fadli Zon juga mengisi kuliah umum di Kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dengan tema Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Membangun Indonesia.

Selain menyampaikan materi perkuliahan, Fadli Zon juga menjawab sejumlah pertanyaan mahasiswa tentang situasi terkini di Indonesia. Khususnya tentang kemiskinan dan kaitannya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya menguntungkan warga kelas atas. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir, berbagai data menyebutkan jika pertumbuhan ekonomi kita sebenarnya hanya menguntungkan 20 persen warga terkaya saja, di mana 80 persen sisanya, yang mencakup sekitar 205 juta penduduk, tetap tertinggal di belakang” ungkap Fadli Zon.

Selesai kuliah umum di USU, Fadli Zon melanjutkan mengisi kuliah umum di Universitas Islam Sumatera Utara dengan tema Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Membangun Bangsa. Di hadapan ratusan mahasiswa UISU, Fadli Zon menyampaikan Mahasiswa memiliki peran yang istimewa yang dikelompokkan dalam tiga fungsi : agent of change, social control, dan iron stock.

“Saya berharap dengan fungsi tersebut, tugas besar yang diemban mahasiswa dapat mewujudkan perubahan bangsa yang sudah sangat semrawut ini. Hari ini korupsi semakin memprihatinkan, hukum bisa dibeli, biaya pendidikan yang mahal, serta berbagai persoalan lainnya. Disinilah peran pemuda dan mahasiswa untuk bertindak serta berperan aktif”

Fadli Zon mengingatkan bahwa Republik ini dahulu digagas dan didirikan oleh para pemuda. Melalui perantara berbagai organisasi yang mereka dirikan pada awal abad ke-20, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, dan lain-lain. Pertama-tama mereka terlebih dahulu memproklamirkan kelahiran Indonesia sebagai sebuah “bangsa” (nation), melalui apa yang hari ini kita kenal sebagai peristiwa Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928.

“Tujuh belas tahun kemudian, para pemuda yang kemudian memelopori diproklamirkannya Indonesia sebagai sebuah “negara” (state), tepatnya melalui peristiwa Proklamasi, 17 Agustus 1945. Pada dua peristiwa sejarah yang penting itu, pemuda adalah pelopornya” jelas Fadli Zon.

“Dari dua kampus yang saya kunjungi hari ini yaitu Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), saya tekankan bahwa peran pemuda dan mahasiswa begitu penting dalam menyoroti dan menjawab persoalan ketimpangan ekonomi dan demokrasi di Indonesia” jelasnya.

Di akhir kuliah umum, Fadli Zon menyerahkan sejumlah buku yang merupakan tulisan dari Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto yang berjudul Paradoks Indonesia.
Buku tersebut merupakan gagasan Prabowo dalam menyoroti sisi ironis dari Indonesia sebagai negeri yang kaya raya namun banyak rakyatnya yang masih hidup di garis kemiskinan.

“Paradoks itu muncul karena ketimpangan dari sebuah negeri yang berlimpah harta namun tak dinikmati rakyatnya. Meski pertumbuhan ekonomi meningkat seberapa persen pun, kata dia, tidak ada artinya jika tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat”

Selesainya acara kuliah umum, dilanjutkan sesi foto bersama dengan seluruh peserta kuliah serta selfie atau swafoto. Didampingi oleh Ketua DPD Partai Gerindra Sumatra Utara yang juga anggota DPR RI Gus Irawan Pasaribu.