PANDAM GADANG-berdemokrasi.com: Acara peresmian makam Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, berjalan khidmat, Jumat (14/04/2017). Rangkaian prosesi haul sakral adat Tan Malaka dimeriahkan dengan pertunjukan reog, tari piriang badantiang, juga penampilan monolog Tan Malaka.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon; Wakil Bupati Kab 50 Kota, Ferizal Adam;  Pimpinan DPRD Kab 50 Kota;  serta para Ninik Mamak, para Datuk se Kab 50 Kota, hadir dalam acara tersebut.

Pencarian panjang keberadaan makam Ibrahim Datuk Tan Malaka selama 63 tahun oleh keluarganya menemukan titik terang.  Tatkala, pada 2007, seorang peneliti sejarah asal Belanda, Herry Poeze, menemukan lokasi makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pihak keluarga tak hanya menyambut baik temuan makam Tan Malaka itu, tapi  juga menindaklanjutinya dengan melakukan beberapa hal guna meningkatkan keyakinan terhadap keberadaan jasad tokoh pergerakan nasional itu.

Ferizal Ridwan, Wakil Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat mengungkapkan, pada 2009 pihak keluarga telah melakukan tes DNA terhadap tulang yang ada di makam itu. Rangkaian prosesi penjemputan dan pemulangan dilakukan berdasar mandat dari pihak keluarga yang menginginkan jasad Tan Malaka kembali dan pulang ke kampung halamannya.

Prosesi penjemputan dan pemulangan jasad Datuk Ibrahim Tan Malaka dimulai sejak 16 Februari 2017. Tim delegasi mengambil beberapa genggam tanah dari makam Tan Malaka secara simbolik. Soal pengakuan pemerintah masih menunggu keputusan Kementrian Sosial.

Hari itu, selain peresmian makam Tan Malaka secara adat, juga dilaksanakan peresmian Monumen Patung Tan Malaka karya Perupa Bambang Win yang berkolaborasi dengan Fadli Zon. Patung perunggu ini bobotnya mencapai 120 kg. Acara lainnya adalah launching Tan Malaka House and Library sebagai museum, taman bacaan, dan pusat kajian ekonomi kerakyatan.

Pada kesempatan itu, Fadli Zon menaburkan bunga di makam Tan Malaka. Fadli menyebut, Tan Malaka adalah tokoh penting dalam pendirian Republik Indonesia. Karena itu, Fadli Zon kembali menegaskan bahwa Tan Malaka adalah Bapak Republik, bukan hanya pahlawan nasional berdasar pada Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963.

Wakil Ketua DPR Bidang Korpolkam yang punya perhatian mendalam pada sejarah dan kebudayaan ini berpendapat bahwa Tan Malaka adalah manusia multidimensi, seorang pejuang, pemikir, dan visioner. Tan Malaka pernah berjuang di garis kiri, namun tetap sangat nasionalis dan muslim yang taat.

Selain itu, kata Fadli Zon,  Tan Malaka adalah pemikir awal sebelum kemerdekaan Indonesia yang memiliki konsep tentang negara republik. Pemikiran Tan Malaka Merdeka 100% masih sangat relevan sampai hari ini. Kita bisa melihat bagaimana  kondisi Indonesia harus mengedepankan  kedaulatan agar bisa sepenuhnya berdaulat. Dalam hal ini kedaulatan pangan, kedaulatan energi, serta kedaulatan di darat, laut, dan udara. Dan, tak kalah pentingnya adalah berdaulat dalam pemikiran sebagai bangsa yang merdeka, bukan inlander.