PRESIDEN MENYAMAKAN DIRINYA DENGAN INDONESIA DAN PANCA SILA. MAKA DATANG KRITIK KERAS DARI TOKOH POLITIK SENIOR PERMADI.

 

Peringatan Hari Lahir Panca Sila, dasar negara kita pada 1 Juni lalu, sekarang menuai kontroversi. Itu dimulai dari Presiden Jokowi yang pada hari itu menyampaikan pidato resmi.  Dalam pidato yang disampaikannya dengan nada datar-datar saja, Jokowi menyelipkan kalimat, ‘’Saya Pancasila, saya Indonesia.’’

Tentu saja pernyataan Presiden yang mantan Walikota Solo, dan mantan pedagang meubel itu, menimbulkan tanda tanya bagi sementara orang.   Biasanya orang menyebut diri sebagai Pancasilais yang artinya sebagai seseorang yang menganut paham Pancasila. Kalau Presiden Jokowi berkata, ‘’Saya Pancasila,’’ artinya, dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, dia adalah Pancasila itu sendiri. Kalau Jokowi bilang, ‘’Saya Indonesia,’’ berarti negara Indonesia adalah Jokowi. Jelas itu tak benar.

Beberapa hari setelah pidato Jokowi, muncullah Permadi, tokoh politik senior itu, memberi peringatan keras. Menurut Permadi, Pancasila yang ditemukan oleh Bung Karno itu, sekarang adalah ideologi dan dasar negara Indonesia. Karena itu Panca Sila tak bisa dipersonifikasikan pada diri seseorang, sekali pun orang itu menjabat Presiden.

Maka orang yang berani mempersonifikan dirinya dengan Pancasila, menurut Permadi, adalah seseorang yang angkuh dan sombong. Betapa tidak?  Sila pertama dari Pancasila, kata Permadi, adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. ‘’Masak ada orang yang mempersonifikan dirinya dengan Tuhan?,’’ kata tokoh politik senior yang menyebut dirinya sebagai penyambung lidah Bung Karno.

Oleh karena itu, menurut Permadi, pernyataan itu sangat sombong dan angkuh. Apalagi kalau pidato itu lewat stasiun TV yang ada disebar-luaskan kepada masyarakat.  Maka dampaknya, kata Permadi, ‘’Para koruptor, bandar Narkoba, para bandit, para pencoleng, penjual negara, akan ikut ramai-ramai menerikkan: saya Pancasila, saya Indonesia.’’

Yang akan menuai kesulitan, antara lain, kata Permadi, adalah para guru di sekolah. Maksudnya, para guru akan kerepotan di dalam kelas menghadapi para muridnya yang mengaku sebagai Pancasila dan Indonesia.  ‘’Kita semua akan jadi orang yang bodoh sebodoh-bodohnya,’’ katanya, ‘’Termasuk stasiun televisi yang menyebar-luaskannya tadi.’’ Padahal Bung Karno saja sebagai penggali dan penemu Pancasila, sekali pun tak pernah mengakui dirinya sebagai Pancasila. Bagaimana kok Anda berani mempersonifikasikan diri Anda sebagai Pancasila,’’ katanya.

Yang lebih menarik Presiden Jokowi mau pun orang-orang atau pejabat di sekelilingnya seakan membisu. Tak ada sedikit pun suara muncul dari para pejabat (yang jumlahnya begitu banyak) di Sekretariat Negara (Sekneg) atau Sekretariat Kabinet (Sekab). Mereka seakan membenarkan kritik keras Permadi terhadap Presidennya.  Tapi lebih dari itu semua, yang terpenting ditunggu-tunggu rakyat adalah jawaban dari Presiden Jokowi sendiri. Jangan diam saja Pak Jokowi.

Amran Nasution.