Gelora

Koperasi, Pilar Ekonomi Rakyat

fadli zon46

Koperasi adalah sebuah perkumpulan beberapa orang atau lembaga yang bekerja sama atas dasar sukarela dengan hak dan tanggung jawab bersama dalam melaksanakan produksi, perdagangan atau aktivitas ekonomi lain untuk kepentingan anggota. Koperasi tak mencari untung sebesar-besarnya, tapi kesejahteraan sebaik-baiknya bagi anggota. Orang dianggap lebih penting ketimbang modal. Modal hanyalah alat.

Setiap 12 Juli kita peringati hari koperasi. Tahun ini adalah HUT Koperasi ke-66. Koperasi sudah hadir sejak akhir abad 19 di Hindia Belanda. Pelopor koperasi di Indonesia adalah Margono Djojohadikusumo, kakek dari Prabowo Subianto. Mohammad Hatta sering disebut sebagai Bapak Koperasi, tapi menurut saya yang tepat adalah Bapak Ekonomi Kerakyatan. Margono lebih tepat disebut Bapak Koperasi. Keduanya bersahabat sejak dulu. Margono menjadi Ketua DPA pertama dan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) 1946.

Margono Djojohadikusumo adalah Inspektur Koperasi di zaman Belanda. Ia menulis buku penting “Sepuluh Tahun Koperasi: 1930-1940” yang terbit kali pertama pada 1941. Kini telah diterbitkan ulang pada 12 Juli 2013, 72 tahun kemudian. Di buku ini jelas ditulis bagaimana sejarah dan perkembangan koperasi sejak awalnya hingga menghadapi depresi besar dunia. Koperasi ternyata punya daya tahan terhadap krisis ekonomi.

Di era globalisasi dengan praktik pasar bebas, peran koperasi di Indonesia makin terpinggirkan. Pengembangan koperasi masih belum optimal. Koperasi menghadapi tantangan korporasi besar. Ini yang membuat kesenjangan makin tinggi. Yang kuat semakin kuat, yang lemah makin tersisihkan.

Koperasi merupakan amanat konstitusi. Pasal 33 UUD 1945, menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Artinya, koperasi seharusnya menjadi penopang dan pilar perekonomian bangsa. Namun, sekarang justru sistem ekonomi kita dipimpin ekonomi pasar yang liberal.

Akibatnya perhatian pemerintahan di era reformasi justru menguatkan para pengusaha besar, dan lupa memberdayakan usaha kecil. Padahal jika dilihat dari potensi ekonomi, proporsi usaha kecil adalah yang paling besar.

Menurut data Kementerian Negara UKM dan Koperasi, jumlah UMKM sebanyak 44,69 juta unit terdiri dari atas usaha kecil 44,62 juta unit, usaha menengah 67.765 unit dan koperasi mencapai lebih dari 70.000 unit. Angka unit usaha ini belum mencerminkan proporsi pembagian kue ekonomi yang besar. Perekonomian Indonesia tetap dikuasai segelintir orang saja.

Kita perlu revitalisasi koperasi, bukan hanya kuantitas tapi juga kualitas. Dalam satu tahun, jumlah koperasi yang terbentuk di satu kabupaten tak lebih dari 10. Padahal, dana pengembangan koperasi pada APBN 2013 mencapai 1,45 triliun rupiah. Perlu political will pemerintah dalam menopang setidaknya tiga aspek, yakni kelemahan permodalan, pengembangan produk dan pasar, serta jaringan. Revitalisasi koperasi mengharuskan komitmen semua pihak.Koperasi tetap relevan dan merupakan cara membangun ekonomi rakyat yang tepat.Koperasi adalah pilar ekonomi kerakyatan.

Share:

Leave a reply