JAKARTA-berdemokrasi.com: Dalam pengungkapan 17 kilogram sabu di Bengkayang, Kalimantan Barat, seorang pelaku bernama Teddy Fahrizal diketahui merupakan narapidana yang sedang menjalani masa tahanan di Rutan Kelas II Bengkayang, Kalimantan Barat.

Komjen Budi Waseso, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), mengatakan, dari keterangan Teddy, dia dengan mudahnya bisa keluar masuk Rutan dengan leluasa. Teddy diketahui sebagai bandar narkoba dan pemodal.

“Dia bisa keluar masuk untuk mengedarkan narkoba di luar lapas. Bahkan, sepertinya lapas jadi tempat tinggal yang aman buat dia,” ujar Budi di Kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (23/8/2017).

Budi mengatakan, dari kasus tersebut serta sejumlah kasus lainnya memperlihatkan bahwa baik Rutan maupun lembaga pemasyarakatan bisa menjadi tempat transaksi teraman dan nyaman bagi pengedar narkoba.

Dia berharap, pemerintah lebih memperketat penjagaan lapas maupun rutan agar peredaran narkoba di lapas bisa diakhiri.

“Kami masih membuktikan kisruhnya kondisi lapas kita. Sehingga jaringan narkoba tetap eksis di negara kita maka terjadi terus penjualan narkoba dengan melibatkan jaringan internasional,” papar Budi.

Diketahui sebelumnya, tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), Polda Kalimantan Barat, dan Bea Cukai, menggagalkan penyelundupan sabu seberat 17 kilogram di daerah Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat pada 6 Agustus. Sabu tersebut diselundupkan dari Kuching, Malaysia, melalui Pos Lintas Batas Jagoi Babang, Kalimantan Barat.

Melalui pengembangan, tim menangkap beberapa orang pelaku, yakni WN Malaysia bernama Cheng Kheng Hoe alias Ahoi, Alaw alias Ape, Alvin, dan Tia, di sebuah rumah milik Haryanto alias Unyil, di Perum Taman Kencana, Rangkang Sekayok, Kelurahan Sebalo, Bengkayang.