AMERIKA SERIKAT-berdemokrasi.com: Calon Presiden  Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump, kembali membuat pernyataan kontroversial.  Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel jika dia menang pilpres.

Pernyataan kontroversial Trump itu disampaikan dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sedang berkunjung ke AS pada Ahad (25/09/2016). Kepada Netanyahu, Trump berjanji akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel jika dia menjadi Presiden AS.

Pernyataan Trump itu mendapat kecaman dari otoritas Palestina, yang terus mengupayakan solusi dua negara, bersama AS. “Pernyataan Trump menunjukkan pengabaian hukum internasional dan posisi kebijakan luar negeri AS sejak lama terhadap status Yerusalem,” tegas Sekjen Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat, dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Selasa (27/9/2016).

“Pernyataan sebelumnya yang disampaikan penasihatnya untuk urusan Israel jelas menunjukkan sikap meninggalkan solusi dua negara, hukum internasional dan resolusi PBB,” imbuhnya.

Israel mencaplok separuh wilayah Yerusalem Timur saat Perang Arab-Israel tahun 1967 dan mendudukinya sejak 1980. Israel kemudian menyatakan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Padahal Palestina melihat Yerusalem Timur sebagai ibu kota potensial bagi negaranya kelak.

“Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Trump, akhirnya akan menerima mandat kongres sejak lama untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel sepenuhnya,” demikian pernyataan tim kampanye Trump.