Gelora

Survei

Survei

Survei adalah sebuah penelitian atau kegiatan mengumpulkan data untuk melihat situasi, kondisi atau persepsi masyarakat. Hasil survei dijadikan alat analisis untuk menentukan kebijakan atau intervensi strategi. Survei politik kini jadi semacam kewajiban dalam kontestasi pemilihan umum (pemilu), pemilihan presiden (pilpres), pemilukada dan lain-lain.

Metode survei merupakan adaptasi dari perangkat pemasaran (marketing) dan iklan dari dunia komersial. Melalui survei, bisa diketahui produk apa yang diinginkan konsumen. Produsen yang memperdagangkan produk tentu ingin barangnya laku dijual. Karena itu produsen butuh promosi melalui iklan yang menarik, mengena target dan punya daya persuasi terhadap konsumen. Survei menjadi instrumen penting agar usaha public relations atau kampanye iklan, tak sia-sia.

Persepsi memang lekat dengan politik. Tak ada politik tanpa persepsi. Bahkan pertarungan politik seringkali merupakan perang persepsi (perception war). Persepsi ini tentu saja tak lepas dari pencitraan. Pencitraan adalah bagian dari rekayasa politik. Seperti halnya merek dagang, pencitraan dibentuk antara lain oleh kampanye citra. Tentu saja ada citra yang sudah terbentuk karena modal sosial (social capital), modal budaya (cultural capital) atau modal agama (religious capital) yang dipupuk bertahun-tahun.

Survei politik belakangan ini menjadi sebuah peristiwa politik. Setiap pengumuman hasil survei diikuti pemberitaan masif di semua media baik televisi, koran maupun media online. Talkshow, diskusi dan debat digelar menanggapi hasil survei itu. Survei sudah menjadi bagian hidup politisi Indonesia.

Mulanya survei politik hanya menyoroti popularitas (awareness), kesukaan atau ketaksukaan (favorability) dan keterpilihan (electability) baik dari partai politik atau kandidat yang diusung. Dalam hal ini survei memfokuskan diri pada sembilan partai yang berada di DPR RI dan kandidat capres dari partai-partai yang sudah muncul. Survei opini publik memang dapat merekam pendapat rakyat luas tentang berbagai hal termasuk pilihan partai
dan calon presiden.

Karena survei menjadi acuan, hasil jajak pendapat itu kini sangat penting keberadaannya. Ada yang menggunakannya untuk kepentingan internal, ada juga yang menjadikan survei sebagai alat politik. Untuk kepentingan terakhir itu, sang kandidat biasanya “membayar” survei agar hasilnya menguntungkan pemesan. Survei “pesanan” belakangan ini makin marak, sebuah bisnis politik baru.

Sebagai alat kampanye, hasil survei diharapkan dapat membawa efek bola salju atau efek bandwagon alias membentuk opini rakyat. Pada masyarakat yang belum sadar politik, efek ini bisa saja terjadi. Sementara pada masyarakat yang melek politik, justru bisa menjadi senjata makan tuan.

Survei “elit” yang dirilis baru-baru ini dapat menyesatkan karena tak mencerminkan pendapat rakyat, melainkan hanya segelintir elit. Walaupun pendapat elit tetap penting, namun yang paling utama dalam politik adalah sikap dan pendapat rakyat. Suara rakyat yang menentukan

Share:

Leave a reply